ACEH SINGKIL – Sebanyak 33 santri di Kabupaten Aceh Singkil diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (11/2). Para santri dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Aceh Singkil untuk mendapatkan penanganan medis.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan masyarakat. Video yang memperlihatkan para santri mengalami muntah dan pusing beredar luas di media sosial. Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan sakit perut.

Santri yang dirawat merupakan siswa dari Pondok Pesantren Modern Darul Mustafa, Desa Bukit Harapan, serta siswa TK Bunga Al-Qur’an di Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil.

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Nasabe Sajan Yatim, Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gunung Meriah, Akmal, mengatakan distribusi makanan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. Wadah makanan (ompreng) kemudian dijemput kembali pada pukul 12.00 WIB.

Menurut Akmal, pihaknya baru menerima laporan adanya santri yang muntah sekitar pukul 17.00 WIB dari guru pesantren. Guru menyampaikan para santri menyantap makanan setelah salat zuhur sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, makanan telah dipindahkan dari ompreng karena wadah sudah dijemput sebelumnya.

Menu MBG yang dibagikan terdiri dari mi goreng, ayam suwir, nugget tempe, sawi rebus, dan semangka. Akmal menjelaskan, proses memasak dimulai pukul 00.30 WIB dan selesai sekitar pukul 06.00 WIB. SPPG Nasabe Sajan Yatim melayani 1.506 porsi makanan pada hari itu, termasuk 53 porsi untuk santri Pesantren Darul Mustafa yang tercatat sebagai siswa SMP IT Al-Aqof.

Ia juga mengakui sempat menerima laporan dari guru sekolah lain terkait makanan yang berbau basi sekitar pukul 10.00 WIB. “Kami langsung menginstruksikan agar makanan itu tidak dimakan,” ujarnya, Kamis (12/2).

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Muhammad Raja Maringin, mengatakan pihaknya telah meninjau dapur SPPG Nasabe Sajan Yatim untuk mendalami alur pengolahan hingga pengemasan makanan.

“Untuk sementara, operasional SPPG dihentikan mulai hari ini,” katanya. Ia menambahkan, sampel makanan dan muntahan korban telah diambil untuk diperiksa di laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kita tunggu hasil uji laboratoriumnya,” ujarnya.